Friday, March 29, 2013

Awal cerita memegang benang dan jarum rajut

Saya kenal merajut sejak SD, ketika melihat kumpulan benang nenek saya yang kita panggil Emak. karena beliau sudah tua, gulungan benangnya bercampur satu sama lain, dan saya suka membereskannya. It was really enjoying melihat jalur benang yang terkait satu sama lain, kemudian saya membereskannya. 

Saya kemudian mulai memegang jarum rajut dan benang. Emak mengajarkan saya, tapi kayaknya beliau mengajarkannya tidak tuntas, entah saya yang kelihatannya malas atau karena beliau sudah sepuh, jadi ngajarnya juga gak serius. Saya pun mulai merajut, hasilnya melinting. Tapi kalau cuma bikin tali rantai atau chain, sampai menyambung menjadi beberapa lapisan, okelah. Tapi karena masih anak kecil, minat yang ada gak dipupuk, jadi lenyap begitu saja, apalagi saya tidak tau dimana membeli benang dan jarum itu. 

Benang kuning, karena saya suka warnanya yang cerah menceriakan hari. I like this  yellow yarn, because it colors my days.


Tante saya ternyata suka dengan benang dan jarum juga, tetapi lebih kepada kristik atau cross-stitch. Beliau juga punya benang dan macam-macam jarum rajut juga. Tapi saya punya buku pola kristik, karena dijual di toko buku. Jadi saya mulai membuat kristik. And it was interesting. Tapi sekali lagi, saya tidak tahu di mana membuat bingkainya, dan bingkai cukup mahal untuk kantong seorang anak SD. 

Ketika SMP dan SMA saya melupakan rajut merajut. Tidak ada waktu. Punya beberapa adik dan kegiatan sekolah yang padat, cukup menyita waktu. Waktu luang lebih baik digunakan untuk tidur. 

Ketika kuliah dan mulai punya penghasilan dari mengajar les privat, saya tertarik lagi dengan benang dan jarum. Saya membuat tempat pensil dari benang wol dengan warna bendera Jerman, karena saya kuliah di IKIP Jakarta jurusan bahasa Jerman. Ternyata banyak yang tertarik, dan memesan. Saya sih senang aja, karena bisa jadi tambahan. Tapi ternyata membuat tempat pensil ini bikin jari-jari saya sakit. Mungkin teknik saya salah, karena teman-teman dari jurusan lain yang berbisnis rajutan asyik-asyik aja tuh membuat rajutan ini. Sampe dijual di bazar kampus segala.

Di sebuah pameran, saya bertemu dengan sekelompok ibu-ibu cantik dan gaul yang menjual macam-macam hasil rajutan dan ternyata mereka membuka kursus merajut juga. Saya pun tertarik untuk ikut kursus. Saya sadar teknik merajut saya parah. Karena saya mencoba berbagai pola, tapi hasilnya selalu melinting. Kata orang, karena saya menarik benang dan rajutan terlalu kuat. 

Ikut kursus cuma sekali, karena kata mereka, yang penting latihan dan latihan. Saya latihan terus menerus, tapi hasilnya sama yaitu melinting, terus.

Nah, ketika mendapat beasiswa ke Austria bulan Oktober - November 2012 lalu, saya membeli sejumlah buku rajutan Austria, karena ketika kuliah, ada teman yang mencapat kiriman buku rajutan dari Jerman, dan cantik-cantik modelnya, dan harganya murah. Saya menitip buku semacam itu kepada orang yang pergi ke Jerman, tetapi tidak ada yang tau di mana tempat membelinya. Ternyata di kota Wina dan Graz banyak sekali toko benang!!! Nanti saya cerita tentang hal ini pada postingan berikutnya.

Sekarang saya merajut lagi, eh, ternyata hasilnya bagus, tidak melinting lagi, kalaupun melinting tidak separah hasil yang terdahulu.

Orang Jerman bilang, √úbungen macht Meister. Banyak latihan membuat kita mahir. Yuk, merajut..... 

No comments:

Post a Comment